Dan mahasiswa hanya bisa melihat tanpa berkutik..
Dunia perkuliahan sedikit banyak akan memberikan efek kepada pola pikir mahasiswa nya. Ternyata politik kampus pun menarik untuk di amati. Ada banyak cara untuk melakukan politisasi, namun sayang nya hal ini dilakukan oleh berbagai macam pihak di kampus, sehingga membuat management kampus yang ada sekarang tidak berjalan dengan baik. Pernah sekali org tua para mahasiswa berbondong-bondong datang untuk menyatakan keberatan atas salah satu kebijakan kampus yang memang agak aneh.
Beberapa ada yang memang mencari keuntungan terhadap hal-hal sekitar operasional kampus, sebagian ada yang direkrut tanpa tahu bagaimana track record nya, yang penting mereka-mereka yang direkrut merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik.
Dosen.. no.1 dikmpus ini. Namun ternayata ada hal-hal yang lebih penting dari sekedar dosen yang handal. System yang tidak berjalan dengan baik membuat semua yang ada sekarang terlihat seperti robot remote control. Berlatar belakang dengan keinginan yang luhur dari pemilik nya akhirnya sekolah ini pun dibuat. Namun, sebagai mahasiswa sekolah bisnis, saat ini saya melihat keberadaan sekolah ini pun sebagai satu pencitraan diri, suatu cara pembangunan image baru yang lebih baik. Salah satu bentuk CSR yang tidak benar-benar CSR, yaa..walau bagaimanapun juga hal Itu masih sah-sah saja. Sebagai pelaku dan pengamat bisnis, kita pun tahu bahwa image memang sangat penting bagi suatu perusahaan atau kelompok usaha tertentu.
Okelah.. hal yang pertama itu sudah bagus, ada niatan untuk membuat sekolah beserta sejumlah beasiswa yang di berikan kepada mahasiswa nya, yg lebih keren malah sebagian besar mahasiswa disini merupakan anak beasiswa. Fasilitas bagus, dosen unggulan, namun seperti yang saya bilang di awal, tidak ada yang mengerti tentang system pendidikan di dalam nya. Sehingga banyak terjadi keanehan didalam sini.
Peraturan yang dibuat malah dilanggar sendiri. Beberapa waktu lalu baru saja di terbitkan buku panduan mahasiswa (beritanya, buku ini segera di launching sebelum persiapannya matang karena ada “kuping-kuping” yang mendengar bahwa rekan senat mahasiswa akan member teguran kepada management kampus tentang tidak ada nya follow up tentang buku panduan). Akhirnya buku panduan mahasiswa pun di terbitkan, namun benar saja setelah dicek ada banyak pasal dalam buku itu yang tidak dijalankan di sekolah ini atau bahkan it doesn’t really exist..
Ada lagi seorang kajur yang selalu membuat peraturan sesuka hati dia. Gak tau itu benar ada dan benar diakui atau tidak di kampus. Dan ujung-ujung nya yang dijadikan sasaran empuk ada nilai mahasiswa yang bisa dia utak-atik sendiri. Analogi nya begini, sebagai mahasiwa penerima beasiswa ada beban terhadap nilai yang harus di pertanggung jawabkan. Siapa yang mau kehilangan beasiswa? Sehingga disini kita menjadi sangat lemah dan bodoh, semua peraturan yang dibuat oleh sang kajur selalu berorientasi terhadap nilai.
Belum masalah system yang masih kalang kabut berantakan tiba-tiba sudah ada kabar bahwa kita sudah mengukuhkan diri menjadi universitas. WOW… haruskah kita senang? Mahasiswa lain senang denga hal ini, siapa yang tidak senang bahwa akhirnya sekolah tinggi ini bisa menjadi universitas? Namun, hal ini tidak ada pada saya. Saya melihat ini sebagai suatu manipulasi terhadap apa yang kita miliki. Rahasia umum bukan bahwa syarat untuk menjadi universitas harus memiliki setidak nya satu orang professor, memilki lebih dari 5 jurusan, memilki lebih dari 2 fakultas, dan hal-hal teknis lain yang memang harus di penuhi SEBELUM kita bertransformasi menjadi universitas. Namun hal ini terbalik (memang di sekolah kami semua nya bisa terjadi) kita terlebih dulu mengganti nama menjadi universitas (belum peresmian, peresmian segera di lakukan di bulan November ini) dan pemenuhan syarat-syarat tersebut akan di lakukan di tahun ajar berikutnya. Bukankah hal ini lucu?
Mahasiswa disekolah ini seperti di kebiri, tidak dapat melakukan apa-apa, bahkan OSIS dan siswa SMA pun dapat melayangkan mosi tidak percaya terhadap kepala sekolah dan segera di lakukan sidang istimewa untuk mengganti kepala sekolah nya itu apabila terbukti benar ada penyelewengan yang dilakukan. Sedangkan kita disini, untuk berhadapan dengan kajur saja masih belum mampu.
Sekolah ini lucu, sangat kental dengan bisnis, sangat kental dengan politik kampus, dan sangat tidak ada feel pendidikannya. Semua staff hanya bekerja, bukan melayani.
Sabtu, 31 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar