Sejak pagi suara ibuku sudah memenuhi seluruh isi rumah. Karena hari ini ibuku ada pesanan catering di daerah pondok cabe, maka semua anggota keluarga sudah bangun pagi-pagi sekali untuk membantu beliau. Ibuku seorang pekerja keras. Beliau selalu berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengecewakan pelanggan nya. Catering ibuku cukup diminati oleh banyak orang, walaupun belum memenuhi persyaratan untuk membuat badan usaha sendiri, karena omset nya yang masih dibawah rata-rata. Jadi sampai saat ini masih usaha rumah tangga saja.
Pagi itu aku dan ayahku yang mengantar catering ibuku itu, karena ibuku harus mempersiapkan makanan untuk pesanan lainnya. Saat ini kehidupanku termasuk berkecukupuan. Keluargaku menghuni satu rumah seluas kurang lebih 200 meter dikawasan pakujaya, dengan desain kontemporer dan dihiasi oleh pendopo kecil di bagian depan rumah, memiliki satu unit motor & mobil keluarga, ayahku seorang konsultan proyek, kaka ku baru saja di terima sebagai CPNS sekneg, adikku seorang siswa di salah satu SMP negri dengan program RSBI (Rintisan Sekolah Berstandard Internasional) dan aku seorang mahasiswa S1 penerima beasiswa dari salah satu group perusahaan terbesar di Indonesia
Dilihat dari fisiknya, keluarga kami sangat berkecukupan. Mana ada orang yang percaya bahwa ibuku pernah hanya memiliki uang 15,000 rupiah, padahal harus memberikan adikku ongkos sekolah, memberikanku ongkos kuliah, membeli bensin motor, dan membeli sayur untuk makan dirumah. Ibuku tidak pernah mengeluh pada ayahku apabila beliau hanya diam saat mengetahui keadaan dirumah seperti itu, ibuku tetap memutar otak mencari cara untuk menyambung kehidupan. Ibu dan ayahku selalu berpesan bahwa harta bukanlah ukuran kebahagiaan. Walaupun ayahku selalu mencontohkan hal tersebut dengan melihat kalangan elite Indonesia, baik pemerintahan maupun pengusaha yang sering terjerat kasus seputar uang milyaran rupiah, namun di otak ini belum bisa melihat kearah itu. “coba saja lihat siaran TV hari ini, padahal mereka kaya raya namun masih saja mau mengambil hak orang lain. Mereka kaya raya, namun apa mereka bahagia?”, kata ayahku sembari meminum tehnya yang sudah dingin. Aku hanya tersenyum sambil membetulkan bentuk jilbab ku di cermin, dalam hati aku hanya terus bergumam “hidup itu serba salah, kaya raya aja gak bahagia bagaimana gak kaya raya? Lebih gak bahagia. Gimana mau bahagia kalau tiap hari harus memikirkan besok mau makan uang nya dari mana?”. Namun lamunan ku buyar seketika saat ibuku menyuruhku mengangkat beberapa barang ke mobil.
Sepanjang perjalanan, kami berdua membisu. Hal itu sering terjadi karena ayahku pun termasuk orang yang tidak suka berbicara banyak, beliau hanya berbicara seperlu nya saja dan tidak suka basa-basi. Pemikiran-pemikiran beliau sangatlah baik namun tetap saja kesabarannya masih perlu dilatih. Terkadang beliau bisa marah besar hanya karena masalah kecil yang tidak sejalan dengan beliau. Namun ibuku selalu mengatakan untuk memaklumi nya karena ayah pun tahu apabila ayah sedanga salah, namun terkadang sulit bagi beliau untuk mengakui kesalahannya pada saat itu, jadi biasanya kita tunggu 1-2 minggu kedepan sampai beliau membuka wacana untuk membahas masalah ini kembali dengan kepala dingin.
Sesampainya di pondok cabe, aku dan ayahku mengatur berbagai macam barang untuk kesiapan coffee break setelah makan siang untuk peresmian mesjid di komplek di daerah pondok cabe. Setelah selesai mengatur semua nya, kami berdua memutuskan untuk mencari makan siang di daerah sekitar dan menunggu saja sampai acara nya selesai karena buang-buang waktu dan bensin kalau harus pulang ke rumah dulu. Setelah makan siang ayahku memarkirkan mobil nya di bawah pohon rindang di sisi lain halaman mesjid. “itu anak jalan kaki pulang sekolah pasti jauh, dari sini ke depan komplek aja udah jauh”, celetuk ayahku. “iya pah, untung suasana mendung”, balas ku. Tiba-tiba ada dua anak kecil mengendarai satu sepeda, yang satu mengendarai dan yang satu di gonceng di depan sepeda, tiba-tiba mereka harus melewati sebuah portal diujung jalan menuju perkampungan (perbatasan antara komplek dan perkampungan), namun kepala teman yang di gonceng terantuk portal, mereka kehilangan keseimbangan dan akhirnya mereka berdua jatuh. 3 detik mereka membersihkan diri mereka dari tanah dan debu, dan tiba-tiba saja tawa mereka meledak, mereka saling mengejek satu sama lain, namun mereka tertawa bahagia. Tidak ada air mata, padangan kemarahan dan kekesalan ataupun luka di hati mereka karena kesalahan satu sama lain. Mereka pun saling membantu untuk berdiri, dan mereka kembali mengendarai sepeda usang itu dengan riang gembira.
Tiba-tiba ayahku bilang, “coba lihat, kalau mereka saja bisa tertawa setelah terantuk portal dan jatuh dari sepeda jadi sekarang ini sebenarnya apa arti dari kebahagiaan? Ayah yakin jangankan punya mobil atau rumah yang layak, untuk biaya sekolah saja pasti mereka kesulitan. Jadi sebenarnya yang harus malu itu siapa? Kita, orang yang berkecukupan namun selalu mengeluh, atau mereka, orang yang tidak punya apa-apa namun selalu bahagia?”.
Senin, 15 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar